Rabu, 25 Juli 2012

Jelang Pemilu Kada 2010, MM Kine Klub UMY gelar nonton bareng Film “Ayam Mati di Lumbung Padi”

Film independen atau lebih populer dengan sebutan film indie, kini semakin menemukan ruangnya. Di Yogyakarta, perkembangan film-film indie begitu pesat. Komunitas-komunitas film indie semakin banyak hadir di kampus, di sekolah, maupun di tengah-tengah masyarakat, seakan menjadi bukti bahwa film indie kian diminati. Film sendiri pada hakekatnya tidak hanya sekadar menjadi sebuah tontonan, namun merupakan sebuah sarana untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Ruang apresiasi pun kian merebak dengan hadirnya ruang-ruang mainstream seperti bioskop dan side stream seperti taman budaya atau ruang-ruang yang ada di kampus, sekolah, dan tempat-tempat publik lainnya. Sebagai bentuk apresiasi, dan sebagai ruang diskusi untuk memahami dan memaknai pesan yang disampaikan dalam film tersebut, Muhammadiyah Multimedia Kine Klub Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (MM Kine Klub UMY) akan menggelar screening film atau nonton bareng film peraih penghargaan kategori film dokumenter panjang terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2009 lalu, Ayam Mati di Lumbung Padi, di pendopo Kampus Terpadu UMY, Senin (26/04) jam 19.30 WIB. Film Ayam Mati di Lumbung Padi merupakan film dokumenter hasil kolaborasi Darwin Nugraha (director, editor, dan co-producer) bersama Elva Laily (field director dan researcher), dan Amir Pohan (executive producer dan co-director), di bawah bendera buttonijo pictures. Agenda ini merupakan rangkaian dari roadshow pemutaran dan diskusi film Ayam Mati di Lumbung Padi di enam kota di Indonesia. Dalam screening kali ini, tidak hanya Ayam Mati di Lumbung Padi, MM Kine Klub UMY juga memutarkan film berjudul Cinta Sama Dengan Cindolo Natape produksi Rumah Media Makassar. Ilham Purna Putra, ketua penyelenggara mengatakan, ajang screening dan apresiasi film ini memang diadakan untuk memberikan ruang sekaligus sebagai bentuk apresiasi bagi para penggiat dan penikmat film indie. Terlebih, lanjut Ilham, sang director Darwin dan field director Elva Laily merupakan alumni dari MM Kine Klub UMY. Sebuah film ketika telah selesai diproduksi dan diluncurkan kepada penonton, maka ukuran keberhasilan penyampaian pesan tersebut adalah pada tanggapan yang muncul dari penonton. “Film itu, kalau sudah dilempar pada khalayak, maka akan bisa dinilai, apakah film tersebut sukses menyampaikan pesannya atau tidak. Feedback dari penonton yang nantinya menjadi tolak ukur,” tutur Ilham. Ayam Mati di Lumbung Padi adalah sebuah dokumenter yang bercerita tentang ironi kondisi kehidupan masyarakat kecil yang semakin tertindas di negeri yang kaya raya ini. Padahal, sangat jelas disebutkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD ‘45) sebagai landasan berjalannya Republik ini, bahwa kekayaan alam dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Namun kenyataannya, kekayaan alam Indonesia yang begitu potensial ini, hanya dimanfaatkan oleh segelintir orang saja, yakni mereka yang kaya atau mereka yang berkuasa. Jelang momen Pemilukada 2010 yang sedang berlangsung dan akan datang, berbagai sindiran yang dimunculkan dalam adegan demi adegan di film ini cukup menggelitik. Bagaimana selama ini masyarakat miskin selalu menjadi objek kampanye saat masa pemilihan kepala daerah, namun ketika sudah terpilih, mereka dilupakan begitu saja. “Cerita yang diangkat dalam film ini sungguh ironis. Di negeri yang begitu kaya raya, ternyata masih banyak orang-orang miskin yang kesulitan untuk mendapatkan akses kesehatan, pendidikan, dan kelayakan hidup. Pesannya begitu kental,” imbuh Ilham.

Selasa, 24 Juli 2012

Kine Club UMY Putar Film-Film Potret Indonesia Pasca Reformasi

Yogyakarta- Muhammadiyah Multimedia Kine Club Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (MM Kine Club UMY) bekerjasama dengan Komunitas Film Dokumenter (KFD) mengadakan Screening atau pemutaran film “Tales from Jakarta” di Ruang Sidang Hukum, Gedung E, Kampus Terpadu UMY, Rabu (23/11). Pemutaran film ini diadakan di UMY sebelum Festival Film Dokumeter (FFD) X 2011 yang akan diselenggarakan KFD di Taman Budaya Yogyakarta, 1-5 Desember mendatang. Menurut Koordinator Panitia FFD, Franciscus Apriawan, Tales From Jakarta (2008) adalah kumpulan 5 film dokumenter yang digarap 5 sutradara berbeda yang semuanya menilik kehidupan masyarakat Indonesia pasca reformasi. Dalam Tales from Jakarta, digambarkan bagaimana masyarakat Indonesia, terutama Jakarta, yang hingga kini masih dibayangi kemiskinan, pengangguran, dan berbagai masalah ketidakadilan termasuk masalah perbedaan etnis meskipun reformasi sudah 10 tahun lamanya. Tales from Jakarta terdiri dari Bot Parabot (Jastis Arimba), Babi Apa Ayam? (Sakti Parantean), Irama Hati (Steve Pillar S.), Makan Siang di Hari Jumat (Ariani Djalal), dan Musaifr (BW. Putra Negara). Salah satu film yang diputar “Musafir”, menceritakan dua orang pemulung, Kamal dan Ida yang setiap hari mengumpulkan sampah-sampah yang dibuang orang-orang kaya di Jakarta bermodal gerobak dengan roda yang rusak dan sebuah tongkat. Mereka digambarkan sebagai rakyat miskin yang dalam kesehariannya hanya bergelut demi perut, sehingga tidak menghiraukan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar mereka. Bahkan di akhir cerita, diperlihatkan bagaimana mereka pun sangat sulit mengingat nama gubernur mereka sendiri, Fauzi Bowo saat berbincang di pintu masjid. Film-film dokumenter lain juga merupakan potret kehidupan di Jakarta. Film “Babi Apa Ayam?” misalnya, menceritakan Novi, seorang bocah perempuan berusia 10 tahun keturunan Cina yang tinggal di daerah Glodok, pecinan kota Jakarta. Hari-hari Novi diisi dengan berkeliling menjual Bacang, bukan bersekolah. Franciscus juga menjelaskan, kegiatan-kegiatan seperti ini memang dilakukan sebagai upaya pemberian ruang apresiasi dan sosialiasi terhadap bentuk film dokumenter yang semakin berkembang dengan berbagai macam gaya. Tales of Jakarta misalnya, sangat sedikit adegan-adegan yang ditampilkan dengan wawancara dan narasi. “Film Dokumenter tidak harus banyak dialog dan narasi. Adegan subjek yang natural juga dapat menyampaikan maksud,” jelasnya. Sementara Wakil Ketua MM Kine Club UMY, Norman Perdana Lubis yag ditemui di sela-sela pemutaran sangat menyambut baik upaya sosialisasi Film-film dokumenter pendek seperti ini. Menurutnya, Film dokumenter dan berbagai bentuk film indie menjadi wadah aktulaisasi ide dan kreasi para pemuda yang unik dan menantang. “Pembuatan film-film seperti ini membutuhkan proses yang lama dengan ide-ide yang kritis tentang sudut-sudut kehidupan. Ini yang terus digalakkan di UMY 14 tahun silam. Apalagi saat ini bermunculan komunitas-komunitas yang mengapresiasi film-film seperti ini”, tandas mahasiswa Hubungan Internasional UMY ini.

Kamus Besar Perfilmman

Agent (Agent Model) : Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yangtidak termasuk dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka Art Departement : Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara dan cameraman Asst. Director : Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara. Art Director : Pengarah artistik dari sebuah produksi Asisten Produser : Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya Broadcaster : Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran Best Boy : Asisten Gaffer atau asisten Key Grip. Boom Man : Seorang yang mengoperasikan mikrofon boom. Booth Man : Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi. Camera Departement : Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan. Cameraman : - First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama syuting yang sesungguhnya. - Second Cameraman sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting. - First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk kamera film) - Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera. Cinematographer (Sinematografer) : Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera. Costume Designer : Orang yang merancang dan memastikan produksi kostum secara sementara maupun permanen untuk sebuah film. Dialogue Coach or Dialogue Director : Orang dalam set yang bertanggung jawab membantu para aktor/aktris dalam mempelajari kalimat mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu pengaturan dialog saat Director : Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser. Editor : Sebutan bagi seseorang yang berprofesi sebagai ahli pemotongan gambar video dan audio. Editorial Departement : Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, kadang dengan bantuan asisten sutradara atau produser. Electric Departement : Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala alat elektrik. (misalnya: lampu, kabel, dan lain sebagainya) untuk kebutuhan film. Engineering : Sebutan dalam pengerjaan dan pembagian kerja dalam masalah teknis penyiaran Film Loader : Pengisi Film. Anggota tim kamera kadang adalah asisten kameramen yang mengisi film yang belum diekspose ke dalam magazine dan mengeluarkan film yang telah diekspose Floor Director :Seseorang yang bertanggungjawab membantu mengkomunikasikan keinginan sutradara dari master control ke studio produksi Gaffer :Pemimpin electrician yang bertanggung jawab di bawah Director of Photography mengenai pencahayaan set. berbagai bentuk dan ukuran. Green Departement : Bertanggungjawab untuk menyediakan pepohonan, semak, bunga, rumput, dan benda-benda hidup lainnya baik yang asli maupun buatan. Hairdresser : Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan. Hairdresser Departement : Bertanggungjawab atas kebutuhan rambut asli maupun wig untuk para aktor dan aktris. Key Grip : Orang yang memimpin para pekerja grip. Make-Up Departement : bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting. Music Departement :Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film. Producer : Sebutan ini untuk orang yang memproduksi sebuah film tetapi bukan dalam arti membiayai atau menanamkan investasi dalam sebuah produksi. Tugas seorang produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disetujui oleh executive producer. Production Departement : Bagian yang menentukan batasan biaya dan menangani persiapan dan pelaksanaan atas segala keperluan dalam sebuah produksi. Production Assistant :Bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dilapangan selama proses produksi. Production Manager : Orang yang bertanggung jawab atas detail produksi dari awal sampai produksi itu selesai. Production Unit :Terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang diperlukan dalam suatu produksi. Prop Man :Bertugas untuk memastikan bahwa properti ada ditempat yang seharusnya pada saat dibutuhkan untuk suatu produksi. Research Departement :bagian riset yang terdiri dari orang-orang yang menilai otentisitas artikel, benda, kostum, Script Supervisor, Script Clerk : Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah gerakan, penagrahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang berurutan untuk kemungkinan pengambilan gamabr ulang. Semua informasi ini dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari sutradara untuk editor. Still man, Photographer :Bertanggungjawab atas publiitas dan pembuatan foto set serta lokasi. Dapat juga digunakan pada kesempatan tertentu.. Transportation Departement : Bertanggungjawab terhadap semua kendaraan yang digunakan oleh kru dan pemain selama syuting berlangsung. Dalam hal ini termasuk antar dan jemput kru atau pemain. VTR Man :Orang yang mengoperasikan VTR (Video tape Recorder) selama proses pembuatan acara televisi Wardrobe Departement :Bertanggungjawab atas pemilihan kostum yang akan dipergunakan untuk produksi.

Menjadi Kameramen Yang Baik

Menjadi seorang kamerawan (saat ini kamerawan atau penata kamera istilahnya adalah Camera person) sebetulnya tidak terlalu sulit. Benar, banyak teori photographi yang harus dimiliki. Akan tetapi, dengan sering berlatih seseorang bisa menjadi seorang Camera person. Bahkan menjadi profesional sekalipun ! Diantara profesi yg berhubungan dengan kamera (video/film) antara lain, asisten penata kamera, penata kamera, dan penata photographi (director of photograhy). Karena jenis acara banyak sekali, biasanya kameramen memiliki spesialisasi. Ada kameramen dokumenter, talkshow, musik, sinetron dan tentu saja ada kameramen berita. Di stasiun televisi, setidaknya ada 2 departemen besar, departemen news & affair dan departemen program (drama & non drama). Dan kameramen berita adalah di bawah departemen news & affair. Di berbagai spesialisasi kameramen tadi, kameramen berita adalah yang paling simpel. Terkadang seorang kameramen berita “diperbolehkan” melanggar kaidah-kaidah teori photographi yang berlaku. Hal ini biasanya karena ada sikon tertentu yg menyebabkan seorang kameramen berita tidak bisa optimal. Namun, kalau saran saya seoptimal mungkin kaidah-kaidah (standard operation/SOP) tersebut bisa dilakukan. Kameramen berita di bagi menjadi dua, kameramen di studio menggunakan kamera studio dan kameramen lapangan atau liputan menggunakan kamera video liputan. Bagaimana seorang kameramen berita bekerja ? Tidak seperti pada pembuatan acara televisi lainnya, untuk liputan berita ke lapangan tidak perlu kru dg jumlah yang banyak. Seorang kameramen hanya ditemani seorang reporter saja. Produser berita memberikan tugas pada tim liputan berita untuk meliput berita yang diinginkan. Kameramen dan reporter menuju lokasi kejadian. Kameramen meliput momen yang terjadi, kalau bisa memenuhi kaidah 5 W + 1 H (who, what, when, where, why, + how). Atas permintaan reporter biasanya kameramen juga mengambil beberapa gambar yang dipandang perlu. Tidak seperti acara lain dimana pengambilan gambar/shooting dilakukan sesuai naskah dan pengarahan sutradara, pada acara berita seorang kameramen harus memiliki inisiatif tinggi dalam setiap pengambilan gambar. Kalau bisa gambar-gambar yang terekam harus edit by camera, hal ini untuk memudahkan dalam pengerjaan pasca produksi. Untuk liputan live atau langsung, seminimal mungkin tidak ada kesalahan dalam pengambilan gambar, tentu saja karena dalam siaran langsung tidak bisa retake/diulang. Bekerjasama dg reporter, seorang kameramen harus jeli agar berita yang diliput memiliki nilai lebih. Koordinasi di lapangan juga harus terjaga apalagi terkadang di lapangan sering terjadi rebutan dalam pengambilan gambar. Membuat sudut pandang atau angle yang baik adalah hal utama juga kestabilan dalam handheld kamera. Beradaptasi dengan sikon Sepertinya hal ini sepele, namun hemat saya hal ini sangat penting. Terkadang banyak situasi yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Jika kita tidak bisa berdapatasi dengan situasi tsb bisa berakibat buruk. Pada liputan perang sebagai contoh, kalau kita tidak pintar untuk memilih lokasi maka tidak menutup kemungkinan bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Bekerja dengan cepat Cepat, akurat, dan terpercaya. Seorang kameramen wajib berkerja cepat. Kenapa ? karena nilai berita harus selalu hangat. Jika tidak maka berita liputan yang kita dapatkan jadi basi, keduluan oleh liputan lainnya. Bagaimana kameramen bisa bekerja cepat ? Walaupun dalan liputan berita biasanya tidak banyak persiapan yang dibutuhkan, tapi seorang kameramen berita harus sudah memiliki konsep liputan yang akan dilakukan atau nilai berita apa yang ingin disampaikan. Paham dengan peralatan, terutama kamera, adalah point yang penting sekali. Banyak jenis kamera dengan format beraneka ragam memiliki karakteristik berbeda. Seorang kameramen harus paham betul fungsi semua kontrol di kamera. Tentu tidak lucu kalau kameramen kehilangan momen berita penting gara-gara kameramen tersebut susah untuk memfokus kamera atau membuka/menutup iris. Bahasa Kamera Bahasa kamera merupakan bahasa standar broadcast internasional. Jadi bahasa ini umum digunakan di stasiun televisi manapun. Shot Orang ECU : Extreme close-up (shot yang detail) VCU : Very close-up (shot muka, dari dahi ke dagu) BCU : Big close-up (seluruh kepala) CU : Close up (dari kepala sampai dada) MCU : Medium close-up (dari kepala sampai perut) MS : Medium shot (seluruh badan sebelum kaki) Knee : Knee Shoot (dari kepala hingga lutut) MLS : Medium long shot (keseluruhan badan) LS : Long shot (keseluruhan, ¾ sampai 1/3 tinggi layar) ELS : Extra long shot (XLS), long shot yang lebih ekstrim Zoom In : Obyek seolah-olah mendekat ke kameraZoom Out : Obyek seolah-olah menjauh dari kamera Pan Up : Kamera bergerak (mendongak) ke atas Pan Down : Kamera bergerak ke bawah Tilt Up : sama dengan pan up Tilt Down : sama dengan pan down Pan Kiri : Kamera bergeser ke kiri Pan Kanan : Kamera bergeser ke kanan Track In : Kamera track (bergerak) mendekat ke obyek Track Out : Kamera track (bergerak) menjauh dari obyek Dolly In : sama track in Dolly Out : sama track out Untuk jenis shot yang sering digunakan adalah : 1. Long Shot atau Full Shot, keseluruhan 2. Wide Shot atau Cover Shot, keseluruhan obyek dalam adegan 3. Close Shot atau Tight Shot, kelihatan detail 4. Shooting Groups of people, bisa single shot, two shot, three shot dst sebagai gambaran keseluruhan.